Tentu harapan awal dengan adanya tugas ini adalah kami dapat memaknainya sebagai sebuah nilai yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mencintai sebuah negara bukan hanya dilakukan dalam perkataan saja namun perlu dilalui melalui sebuah aksi yang nyata. Dengan begitu jiwa kita untuk mencintai negara Indonesia semakin bulat. Indonesia kita ketahui banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarahnya sebagai contoh ada candi diberbagai daerah, bangunan bersejarah, museum-museum, dan masih banyak lagi. Kami memilih museum dalam tugas ini, kami mengunjungi berbagai macam museum bersejarah disekitar Ibukota Jakarta.
Museum tersebut terdiri dari Museum Fatahillah, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan keramik. Dengan mengunjungi museum-museum tersebut kami disadarkan bahwa peninggalan Indonesia itu sangat kaya dan bersejarah, menampilakan barang yang sangat langka dan autentik. Hal tersebut yang membuat mata kita terbuka dengan berbagai hal yang unik yang sudah lama ada di Indonesia dan menjadi kunci sejarah yang sudah dilalui bangsa Indonesia dari puluhan tahun yang lalu.
Dari mengunjungi Museum Fatahillah kami dihadapkan berbagai macam peninggalan bersejarah seperti penjara bawah tanah, prasasti Ciaruteun peninggalan Tarumanegara, koleksi keramik gerabah dan lainnya. Dan diakhiri dengan mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik yang terdapat sangat banyak peninggalan asli dari perjalanan panjang sejarah di Indonesia.
Projek ini tentunya dapat memunculkan jiwa nasionalisme yang mungkin sulit didapat pada anak muda dizaman sekarang. Hal ini sangat baik diteruskan, sampai nanti pun saat didunia kerja hal seperti ini akan berguna. Bagaimana saya yang bercita-cita untuk menjadi pengusaha yang dapat membuat nama Indonesia semakin baik dikenal oleh masyarakat didunia dan juga memberikan pengaruh yang besar dalam perkembangan dunia modern. Dengan menciptakan sebuah usaha yang mengedepankan nilai-nilai lokal, dengan begitu kearifan lokal kita dapat tersebar luas di mancanegara dan diagung-agungkan di negri kita sendiri.
Comments
Post a Comment